20 w - Menerjemahkan - Youtube

Kenapa Jurnalis Selandia Baru pas Hamil malah mencari perlindungan Taliban?
---------------------------------------------------------------------------

Charlotte Bellis, namanya meroket ketika Pemerintah boneka Afghanistan runtuh ditinggal tuannya pertengahan tahun lalu. Seketika Taliban mengambil alih kekuasaan, Al Jazeera segera mengutus jurnalis pemberani ini ke sana. Dengan leluasa dia hilir mudik kota Kabul, mewawancarai masyarakat dan bahkan para petinggi senior Taliban. Fokus pertanyaannya rata-rata berkisar tentang Hak Asasi Wanita. Pertanyaan klise khas reporter2 bule sebetulnya.

Tentunya pihak pemerintah yang saat itu sudah transisi ke Taliban menjawab bahwa hak-hak wanita dilindungi sebagaimana aturan Islam. Tapi aksi jurnalisnya yang paling mencolok mungkin, waktu saya lihat dia keliling Kabul dengan berhijab sempurna mewawancarai orang-orang, mulai dari tentara sampai rakyat jelata.

Memang isi wawancaranya tidak ada yang krusial, tapi aksinya yang kemana-mana dengan "aman" ini memberikan kesan "tidak enak" di kalangan barat. Dia ini perempuan dengan kerudung, kemana-mana mendatangi masyarakat. Kenapa pula dia harus berjilbab seperti itu? Kenapa dia malah meliput masyarakat yg kesannya damai-damai aja? Kenapa ngga liput sisi ofensif dan brutalnya taliban?

---------------------------------------------------------------------------

Charlotte, yang sebelumnya divonis dokter tidak akan bisa punya anak, ternyata hamil di bulan November. Tetapi Qatar, negara kantor pusat Al Jazeera memiliki hukum untuk menolak kehamilan diluar nikah. Dia tidak bisa kembali ke atau terus tinggal di Qatar. Akhirnya dia terpaksa mengundurkan diri. Charlotte mulai mengajukan kepulangan ke kampung halamannya. Tetapi aturan ketat Selandia Baru terkait covid, mengharuskan siapa pun yg ingin pulang untuk mengikuti lotre. Siapa yang beruntung, dia bisa pulang.

Kehamilannya tidak bisa mendukungnya untuk memenangkan lotere yang banyak dikritik semua orang Selandia Baru. Langkah pulangnya terjegal. Satu opsi lainnya adalah ke Belgia, tempat pasangannya. Tapi Charlotte tidak punya visa Belgia.

Sisa harapannya tinggal ke... Afghanistan! Ketika orang-orang katanya berbondong2 meninggalkan negeri itu, Charlotte justru berupaya kembali kesana. Dengan malu-malu dia minta izin ke para petinggi Taliban sekarang. Jawaban para petinggi itu singkat saja, hidupnya dijamin di Afghan. "Just tell people you're married and if it escalates, call us. Don't worry."

Dalam wawancara terakhirnya kemarin, Charlotte merasa malu karena selama ini telah memojokkan Taliban dengan pertanyaan2 terkait hak asasi wanita, sedangkan negaranya sendiri berlaku sangat buruk terhadap wanita hamil seperti dirinya.


-- Copas dari ustad Zico Putra