18 w - Menerjemahkan

Di antara cara menyebarkan syubhat berpikir adalah mengajak pendengar melihat contoh yang sedikit untuk membenarkan argumennya.

Seperti mereka yang menjatuhkan image pesantren dengan alasan menumbuhkan terorisme. Atau santri yang menjadi gila di pesantren karena diberikan ajaran yang salah atau tidak sesuai Quran dan Sunah.

Padahal kalau membuat perbandingan yang jujur, mereka yang "bermasalah" itu sebenernya hanya segelintir dari yang segelintir. Bahkan sebenarnya di setiap bidang pun kita bisa temukan orang-orang yang menyimpang. Entah dari mana ia berasal, penyimpangan itu selalu ada.

Atau seperti mereka yang mewaspadai kegeniusan seseorang dan menganggapnya dekat dengan kesesatan. Mengambil contoh dari beberapa orang genius yang akhirnya menyimpang dari Islam dan kufur pada Allah—wal'iyadzu billah.

Jelas hal tersebut adalah syubhat pemikiran. Padahal kalau mau menelusuri dan menimbang secara jujur, kita akan dapati bahwa justru kegeniusan itu yang menjadikan kebanyakan mukmin makin berpegang teguh pada Islam. Siapa yang tidak tahu Imam Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi'i, Ahmad, juga ilmuwan lain yang terlalu banyak untuk disebut satu persatu?

Bagaimana bisa, Islam yang sedemikian masuk akal dan sejalan dengan fitrah manusia, justru dikhawatirkan oleh hadirnya orang-orang yang paling berakal?

Mengenai adanya orang-orang genius yang melenceng dari Islam, itu karena bagian dari sunatullah. Tuhan kita itu maha cemburu, tidak merelakan kesempurnaan dimiliki selain-Nya, selalu kita temukan cela ada di belahan dunia mana pun. Sebab kesempurnaan hanya satu-satunya milik-Nya.

Juga sebagai peringatan, bahwa jangan jadikan kepintaran atau kedermawanan atau semisalnya sebagai sebab bertahannya hidayah. Sebab memang dibiarkan hal-hal tersebut bercela, agar tidak ada alasan untuk kita berhenti berdoa hatta ketika di atas kebenaran sekalipun.

Dari sahabatmu, Qalam