23 w - Menerjemahkan - Facebook

Masjid yang Terpelihara

“Alhamdulillah, hari ini kita menerima sumbangan dari Bapak Fulan sebesar tiga puluh juta rupiah.”

“Alhamdulillah juga, pimpinan masjid beserta keluarganya patungan dan terkumpul dana hampir tiga ratus juta rupiah untuk renovasi masjid.”

Ucapan-ucapan itu menggema dari sepiker masjid, masuk ke rumah-rumah warga. Disambut ucapan “Alhamdulillah”, “Masya Allah”, yang riuh mengisi ruang-ruang masjid. Kadang takbir sesekali terdengar dari pojokan masjid.

Sementara di sebelah masjid, ada sebuah rumah sederhana, dihuni satu keluarga kecil. Tidak ada apa-apa di situ, kecuali tikar yang dipakai tidur bertiga (Ayah, Ibu, dan Anak). Si anak yang baru berusia sepuluh tahun, ikut senang mendengar suara sepiker masjid. Berkata dengan polosnya:

“Alhamdulillah ya Bu, di masjid banyak orang-orang baik. Masjid udah bagus, jadi tambah bagus,” kata si bocah sambil memegang perutnya yang sempat berbunyi, tanda kelaparan.

“Kan kalau toilet masjid bagus, wc-nya bisa dipakai. Di rumah sering enggak ada air soalnya,” katanya, begitu riang.

“Iya Nak, alhamdulillah. Tapi ingat pesan ibu, ya! Jangan maksain diri ke WC, apalagi sampai manjat-manjat segala. Di waktu shalat aja ke WC-nya, biar dibukain WC-nya sama pengurus masjid,” kata si Ibu yang juga memegangi perut laparnya, tangan satunya mengelus rambut si anak, barangkali cara itu bisa mengurangi lapar si Anak. Padahal sudah dua hari si Ibu belum makan, tapi kelaparan sehari anaknya lebih menyakitkan hati daripada laparnya sendiri.

“Bu! Ayah kok belum pulang, ya? Teman ayah udah selesai pinjam handphone-nya, kan? Aku udah seminggu enggak ikut sekolah online.”

“Sabar ya, Nak. Kalau hari ini rezekinya lancar, ayah kamu bakal pulang kok bawa makanan sama handphone-nya.”

Si anak akhirnya mengerti, tapi tiba-tiba mulut polosnya berkata lagi, “Bu, kata teman aku, ayah pinjam duit ke rentenir, ya? Kan kata Ustaz, itu ada ribanya, enggak boleh, haram, dosanya gede. Kan di sini banyak orang-orang baik, Bu. Kenapa ayah enggak minta tolong sama mereka, ya?”

Si Ibu hatinya sudah terlatih mendengar keluhan demikian dari anaknya, jadi air matanya tidak akan keluar lagi kali ini. Sabarnya dan suami sudah sangat teruji. Lagi pula di sekitar sini, bukan hanya dirinya yang malang. Ada yang lebih sial darinya, yakni tetangga sebelah yang “terpaksa” membiarkan anaknya “berzina” dengan pacarnya lantaran tidak punya uang untuk menikahkan mereka. Mereka sial di dunia, mungkin sial pula di akhirat.

Sedangkan sialnya keluarga kecil itu hanya sebatas di dunia, semoga di akhirat sekeluarga bisa tersenyum bahagia. Pun yang berlomba-lomba memperindah masjid, mungkin tidak terlalu mengenal mereka, karena hidup mereka yang hanya berkutat di antara masjid, rumah, kantor dan sekolah. Semoga nanti di akhirat keluarga kecil itu bisa bertemu mereka di surga, jadi bisa saling akrab.

Semoga Tuhan lupa akan ketidakpedulian para penyumbang pada keluarga-keluarga miskin itu. Supaya hisab si kaya mudah di akhirat nanti, jadi tidak ada pengalang keluarga kecil itu untuk mengenal mereka di pemberhentian terakhir yang dijanjikan. Walau sebenarnya, tidak mungkin Tuhan lupa.

Dari sahabatmu, Qalam.

https://www.facebook.com/11521....15328/posts/10223601