23 w - Menerjemahkan

~ fragmentasi kota berkabut (2) ~


selain kota
tak ada tempat lagi yang kita hampiri
daerah berkabut
di mana kembara kalut tengah mengerami telur-telurnya
hidup di waktu yang begini hitam, hingga cahaya pun
tak sanggup menerangkan

saat matahari terjerembab, ketika sajak lahir dalam gelap
di balik gegedungan yang hiruk-pikuk aku lafadzkan
sukma sunyi di kedalaman rentang laut wajahmu
memaparkan berkas riwayat yang mengembun di pagi susah
tanpa irama nina bobo bunda
kita bermain-main dalam ayunan bersama kebekuan kasih sayang
pada tiap belaian rambut, duh! aku memandang kota
nuliskan hikayatnya pada lembar daun usang
tampaklah ia sebagai noktah-noktah bara
dipenuhi senda gurau meruntuhkan senja
sementara jalan-jalan diam, terminal tersungkur di bawah perut bus kota
halte-halte berlari memburu sosok manusia kelabu
untuk sampaikan salam gaib dari keletihan serta kesibukan tak terukur
pepohonan dalam dada tumbang dengan akar-akar mengejang
waktu ke waktu mencacah kesadaran yang dilanda pejal aspal
rahim ibu melepuh
betapa api tanah kota pijakan membatu ini